Si Cawan Perawan

Sunrise Lumajang via Deri Firman/VisitLumajang.com

Fajar merekah menyambut pagi

 

Bau tanah yang belum kering, dedaunan yang basah membuat pandanganku segar kembali. Semilir angin menerpa tubuhku hingga sampai di pertigaan pertama, terlihat sebuah patung besar berdiri kokoh tepat di tengah pertigaan jalan. Patung petani dengan figur seorang pria bercaping, berkumis tebal, berbadan kekar yang hanya mengenakan celana. Pundak kanannya memanggul cangkul, dengan tangan kiri membawa setandan pisang berukuran besar.

Becak kembali dikayuh menyusuri jalan, kanan dan kiri menghampar sawah hijau membentuk karpet alam yang indah, juga perkampungan bersih dan asri. Sesekali truk besar bermuatan pasir melintas berlawanan arah denganku. Aku kembali terkesima saat kulihat sebuah tugu di sebelah kanan jalan dengan pisang besar di atasnya. "Pisang!" gumamku.

Memasuki area kota, kulihat deretan pertokoan yang masih tertutup rapat. Pasukan kuning membersihkan sampah berserakan, menuangkan isi tong-tong sampah di sepanjang jalan ke dalam gerobak besi yang mereka dorong. Tampak para pedagang makanan bersiap menyambut pembeli untuk mengganjal perut di pagi hari. Kubaca sepintas menu yang ditawarkan: Nasi jagung, nasi lodeh, nasi pecel. Menu sederhana di lingkungan bersih yang menggugah selera, membuat perutku berdendang.