Kesenian Jaran Slining, Akulturasi Budaya Jawa dan Madura Asal Lumajang

Kesenian Jaran Slining yang dibuat untuk hiburan masyarakat. Foto via Disparbud Lumajang

Jaran slining, pertunjukkan tari asal Lumajang yang merupakan turunan dari kesenian Jaran Kencak. Biasa dimainkan oleh dua orang berpasangan. Kesenian ini biasa digunakan untuk pengiring manten kawin atau manten sunat.

Satu orang sebagai penari yang menunggangi kuda-kudaan dan satu orang lagi sebagai pengencak yang membawa yang membawa pecut. Keduanya menari diiringi dengan iringan musik dari gendang, danglung, dan gong.

Tidak ada gerakan pakem yang digunakan untuk pertunjukkan Jaran Slining, bebas untuk berkreasi sesuai dengan alunan musik. Kebudayaan ini lahir dari akulturasi budaya Jawa dan Madura dilihat dari kostum yang dipakai.

Dua penari Jaran Slining menggunakan pakaian dengan corak dominan warna merah, kuning, dan hijau. Warna-warna mencolok itu melambangkan keberanian, kelembuatan, dan keceriaan.

Tampilan dari penampil Jaran Slining pasti tampak meriah dengan memakai aksesoris kepala dan kuda yang biasanya terbuat dari anyaman bambu, bahkan pada zaman sekarang kuda-kudaan yang dibuat mirip dengan aslinya.

Gerakan dalam Jaran Slining yang bebas tanpa aturan dianggap sebagai apreasiasi manusia yang pada zaman dahulu menunggangi kuda sebagai transportasi sekaligus olahraga yang digemari.

Kesenian Jaran Slining saat ini masih termasuk kesenian Lumajang yang digemari sebagai hiburan untuk sambutan bahkan karnaval desa.