Batik Bordir Fair 2026 Jadi Momentum Penguatan Ekonomi Kreatif Inklusif

Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, saat menghadiri Batik Bordir dan Aksesoris Fair 2026. Foto: Visit Lumajang

Ajang Pengenalan Produk Unggulan Jawa Timur

Karena itu, diperlukan dukungan nyata melalui berbagai program pembinaan. Mulai dari pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, hingga perluasan akses pasar harus diberikan secara berkelanjutan.

Menurutnya, persoalan utama yang masih dihadapi pelaku usaha disabilitas adalah keterbatasan akses terhadap promosi dan pemasaran produk.

"Yang perlu kita pastikan adalah aksesnya. Ketika akses terhadap pasar, pembinaan, dan promosi dibuka, maka pelaku usaha disabilitas akan mampu tumbuh dan bersaing secara mandiri," katanya.

Lebih lanjut, ia menyebut ajang Batik Bordir dan Asesoris Fair menjadi ruang penting untuk memperkenalkan berbagai produk unggulan daerah kepada masyarakat luas.

Tidak hanya menjadi sarana promosi, pameran tersebut juga menjadi referensi dalam melihat arah pengembangan ekonomi kreatif di masa mendatang, khususnya terkait penerapan prinsip inklusivitas.

Pendekatan ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma pembangunan ekonomi kreatif, dari yang sebelumnya hanya berfokus pada peningkatan produksi menjadi penguatan ekosistem yang lebih merata dan terbuka.

Dengan komitmen tersebut, Dekranasda Lumajang berharap semakin banyak karya penyandang disabilitas yang mampu menembus pasar lebih luas, sehingga ekonomi kreatif dapat tumbuh sekaligus memberikan manfaat yang adil bagi seluruh masyarakat.