Dilema Lereng Semeru: Ketika Keengganan Pindah Melawan Bahaya
Kondisi Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo setelah erupsi Semeru 19 November 2025 lalu. Foto: Dok. Visit LumajangKultural Penduduk Lereng Semeru
Demikian pula saat penjajahan Jepang, dimana penduduk dipaksa menjalani kerja paksa (Romusha).
Meskipun tanah itu tidak sepadan dengan derita yang mereka tanggung di bawah penjajahan, leluhur kita tetap berjuang dan berakar di sana.
Di penghujung dunia yang lain, Gaza, Palestina. Rongrongan dan penyiksaan Israel mulai dulu sampai sekarang terhadap penduduk Palestina, namun mereka tetap mempertahankan rumah tinggal mereka.
Penduduk lereng Semeru bukan tidak mengerti akan bahaya. Namun, manusia dengan sifat kultural yang sejatinya sangat terikat dengan tempat dan komunitasnya.
Keinginan berkelanjutan dan merasa memiliki, seringkali mengalahkan insting untuk sekadar bertahan hidup.
Belum lagi trauma dan keterbatasan adaptasi. Ketakutan akan hal baru: Setelah mengalami trauma konflik atau bencana, energi mental seseorang terkuras habis.
Sedangkan proses pindah adalah trauma kedua (trauma relokasi) yang membutuhkan adaptasi besar.
