Perjuangan Kapten Kyai Ilyas di Lumajang, Bukti Santri juga Pejuang Kemerdekaan - Bagian II

Koloni militer pada Agresi Militer Belanda I. Foto: C.J. (Cees) Taillie via Wikimedia Commons

Mengutip pernyataan salah satu pegiat sejarah di Lumajang yang dilansir Gontornews.com, pasukan Kapten Kyai Ilyas terus berusaha menghadang dan menyerang pasukan Belanda.

Namun, kekuatan tidak seimbang, sehingga pasukan Kapten Kyai Ilyas berpindah ke arah timur tepatnya wilayah Yosowilangun, Kencong, dan sekitarnya dengan markas berada di Meleman.

Setelah sampai di Yosowilangun, Kapten Kyai Ilyas bergabung dengan Pasukan Soekartijo untuk melakukan penyerangan.

Serangan Belanda makin intensif, untuk mengindari lebih banyak jatuh korban pasukan Kapten Kyai Ilyas bergerak meninggalkan Desa Meleman melintasi sungai Bondoyudo.

Pada saat yang sama, Belanda bergerak menuju Desa Cakru dan pertempuran tak terhindarkan. Belanda ternyata tidak menguasai medan, akhirnya mereka memutuskan untuk munder ke arah Kencong.

Keesokan harinya terdapat laporan bahwa Belanda akan melakukan serangan balasan. Pasukan Kapten Kyai Ilyas merasa terjepit sehingga memutuskan untuk menghindar. Mereka tidak melakukan perlawanan karena kondisi kekuatan yang tak seimbang dan khawatir penduduk sekitar akan menjadi korban.

Saat kondisi terlihat aman, pasukan Kapten Kyai Ilyas bergerak menuju Penanggal dengan jarak 40 km dan ditempuh selama 3 hari. Pasukan Belanda yang menduduki daerah Senduro mengetahui pergerakan tersebut, dan melakukan penyerangan saat pasukan Kapten Kyai Ilyas tiba di Penanggal.