Gunungsari dan Godril, Gerak Kebudayaan dalam Bingkai Sejarah Tayub (1)

3 Juni 2016 21:53 Harjalu 761
Gunungsari dan Godril, Gerak Kebudayaan dalam Bingkai Sejarah Tayub (1) Festival Tari Godril pada Harjalu 761. Via Ainul Yakin.
Intro 1 2 3 4 5 6

Ujar-ujar

Selain pada acara perkawinan atau khitanan, kesenian ini juga digelar sebagai bentuk Nadzar atau Ujar-Ujar (Istilah Jawa. -red). Bentuk ujar-ujar dalam budaya Jawa merupakan tradisi masyarakat jika tertimpa musibah, atau jika menginginkan sesuatu. Misalkan jika ada anak sakit, tidak sembuh-sembuh, maka orang tua akan berujar/bernadzar menggelar tandak jika anak tersebut sembuh.

Nadzar atau ujar-ujar sudah menjadi tradisi yang umum di masyarakat Jawa. Ujaran mereka lakukan sebagai upaya janji kepada Tuhan jika tertimpa suatu musibah, yang pada saat itu dianggap musibah yang tidak masuk akal. Misal penyakit yang dianggap aneh, tidak sembuh-sembuh. Jika mereka mendapat kesembuhan, maka mereka akan melakukan apa yang telah mereka ujarkan.

Bentuk lain ujar-ujar misalnya, mereka berujar akan menggelar Jaran Kencak, Mocopatan. Atau mereka akan berujar untuk menggelar selamatan, tumpengan, dan banyak lagi bentuk ujaran dalam masyarakat Jawa.

Jadi, saat itu Tandak/Tayub biasa digelar di:

  1. Hajat mantu
  2. Hajat khitanan
  3. Nadzar/ujar-ujar
  4. Sedekah sedekah desa atau bersih desa

Jika bicara tentang Godril dan Gunungsari, memang keduanya juga tak lepas dari tradisi Tayub saat itu.

Dnadyaksa Tirtapavitra 18798
#Harjalu 761 #Lumajang #Tari Gunungsari #Tari Godril #Seni Budaya #Afdeeling Loemadjang & Masa Kolonial

© 2018 visitlumajang.com