Di Balik Panggung Segoro Topeng, Ada PR Besar Kebudayaan Lumajang
Segoro Topeng Kaliwungu & Jaran Kencak 2024 (25/08/2024). Foto: Visit LumajangPagelaran Sendratari Segoro Topeng Kaliwungu 2026 yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Dinas Pariwisata tidak bisa semata-mata dibaca sebagai agenda hiburan tahunan.
Di balik panggung yang akan digelar pada 27-28 Juni 2026 di Pantai Watu Pecak Pasirian dengan tata artistik, kostum, dan koreografi kolosal, terdapat lapisan kerja kebudayaan yang lebih dalam.
Panggung sebagai upaya menegaskan kembali Lumajang sebagai ruang sejarah yang pernah hidup sebagai simpul penting peradaban di kawasan Tapal Kuda.
Dalam konteks itu, Segoro Topeng Kaliwungu hadir bukan hanya sebagai pertunjukan seni, melainkan sebagai bentuk artikulasi ulang atas identitas daerah.
Ia menjadi medium untuk menghubungkan kembali masyarakat hari ini dengan jejak panjang sejarah Lamajang, yang dalam banyak catatan lokal kerap dikaitkan dengan narasi kejayaan, pergeseran kekuasaan, serta dinamika sosial-budaya yang membentuk karakter masyarakatnya hingga kini.
Namun, membaca pagelaran ini semata sebagai romantisasi masa lalu juga tidak sepenuhnya memadai.
Sebab, ketika sebuah tradisi atau narasi sejarah diangkat ke dalam panggung pertunjukan modern, selalu ada proses seleksi, penataan ulang, bahkan penyederhanaan makna.
