Di Balik Panggung Segoro Topeng, Ada PR Besar Kebudayaan Lumajang

Segoro Topeng Kaliwungu & Jaran Kencak 2024 (25/08/2024). Foto: Visit Lumajang

Lamajang, The Land of Glory

Meski demikian, bukan berarti upaya ini tidak memiliki nilai. Justru dalam kondisi seperti inilah, pagelaran Segoro Topeng Kaliwungu bisa menjadi titik penting untuk membangun kesadaran baru tentang bagaimana sejarah lokal diproduksi dan direpresentasikan di ruang publik.

Kuncinya terletak pada sejauh mana keterlibatan seniman lokal, budayawan, dan masyarakat dalam proses kreatifnya benar-benar diberi ruang, bukan hanya sebagai pelengkap seremoni.

Disamping itu, Lumajang sesungguhnya memiliki modal historis yang kuat untuk dikembangkan.

Narasi tentang Lamajang sebagai The Land of Glory bukan sekadar slogan, melainkan bisa menjadi pintu masuk untuk membaca ulang sejarah kawasan ini secara lebih kritis dan berlapis.

Namun, narasi tersebut hanya akan bermakna jika tidak berhenti pada level penamaan, melainkan diterjemahkan ke dalam kerja kebudayaan yang konsisten dan berkelanjutan.

Yang pada akhirnya, Segoro Topeng Kaliwungu 2026 dapat dibaca sebagai cermin, sejauh mana Lumajang mampu merawat ingatan sejarahnya sambil tetap bergerak dalam arus modernisasi pariwisata.

Di titik ini, pagelaran ini tidak hanya menguji kemampuan teknis penyelenggaraan Dinas Pariwisata, tetapi menguji kedewasaan daerah dalam memaknai budayanya sendiri, apakah ia sekadar panggung pertunjukan, atau ruang refleksi atas identitas yang terus dinegosiasikan dari waktu ke waktu.