Di Balik Panggung Segoro Topeng, Ada PR Besar Kebudayaan Lumajang
Segoro Topeng Kaliwungu & Jaran Kencak 2025 (29/06/2025). Foto: Visit LumajangKompleksitas Sejarah Lumajang dalam Topeng Kaliwungu
Di titik ini, pertanyaan penting muncul, sejauh mana Segoro Topeng Kaliwungu benar-benar mampu menghadirkan kompleksitas sejarah Lumajang, bukan sekadar citra estetisnya?
Dinas Pariwisata Lumajang, dalam hal ini, memegang peran yang tidak sederhana. Ia bukan hanya penyelenggara teknis, melainkan juga semacam kurator narasi budaya.
Pilihan artistik yang diambil mulai dari alur cerita, simbol topeng, hingga representasi ruang dan tokoh, akan menentukan apakah pagelaran ini menjadi ruang refleksi sejarah atau sekadar produk budaya untuk konsumsi wisata.
Di sisi lain, keberadaan pagelaran ini juga tidak dapat dilepaskan dari konteks yang lebih luas, dorongan daerah untuk mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya.
Dalam kerangka ini, Segoro Topeng Kaliwungu ditempatkan sebagai salah satu etalase identitas Lumajang, yang diharapkan mampu menarik perhatian publik sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM dan sektor kreatif.
Tetapi di sinilah ketegangan itu muncul. Antara kebutuhan untuk memperkuat daya tarik pariwisata dan kewajiban untuk menjaga kedalaman makna budaya, selalu ada ruang tarik-menarik yang tidak mudah dijembatani.
Ketika budaya masuk ke dalam logika event dan kalender wisata, ia berisiko mengalami komodifikasi, menjadi produk yang dikemas untuk tontonan, bukan lagi sebagai ruang hidup pengetahuan dan ingatan kolektif.
