Menolak Takluk pada Aplikasi Online, Cireng Gembul asal Lumajang Sukses Tembus Pasar Global

Kedai Cireng Gembul. Foto: Deni K.

Bangkit dari Keterbatasan

"Dulu sangat melelahkan karena semuanya manual. Kami juga sempat mengalami fluktuasi pesanan yang menurun drastis menjelang event besar seperti Agustusan, hingga menerima rating negatif dari pelanggan di aplikasi ojek online," tuturnya.

Alih-alih menyerah, Agus memilih untuk bangkit. Ia menginvestasikan keuntungannya untuk membeli mesin dan peralatan yang lebih memadai, serta terus menyempurnakan resep cirengnya.

Meskipun ada rasa insecure melihat gempuran kedai modern di Lumajang, Agus meyakini bahwa kunci bertahan hidup di industri F&B adalah mempertahankan kualitas rasa dan pelayanan.

Satu hal yang menarik dari Cireng Gembul adalah keberanian Agus mengambil langkah anti-mainstream dalam strategi penjualannya.

Ketika banyak UMKM berlomba-lomba masuk ke platform e-commerce makanan seperti GoFood atau ShopeeFood, Agus justru memilih mundur. Kegelisahannya beralasan.

"Terlalu banyak regulasi dan potongan admin yang tinggi. Keuntungan kami ditekan seminimal mungkin, sehingga jadi sangat berat kalau kami punya rencana merekrut karyawan," tegas Agus.

Sebagai gantinya, Agus beralih memaksimalkan media sosial. Ia gencar melakukan promosi melalui TikTok dan Facebook, lalu memusatkan transaksi dan layanan pesan antar (delivery) lokal secara manual melalui WhatsApp dengan batasan radius 3 kilometer.