Pengerupukan Nyepi di Senduro Berlangsung Meriah, Sebanyak 15 Ogoh-Ogoh Diarak Penuh Makna
Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Jatim Budiono saat dimintai keterangan (18/03). Foto: Visit LumajangMakna Simbolis Ogoh-ogoh Jelang Nyepi
Menurutnya, tradisi ini memiliki makna sebagai upaya menetralisir berbagai unsur negatif. Hal ini dilakukan agar umat Hindu dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk.
"Ogoh-ogoh digambarkan sebagai simbol hal-hal yang bersifat negatif. Dengan diarak, diharapkan segala energi buruk dapat dinetralisir sehingga umat dapat melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan khusyuk," katanya.
Usai diarak, ogoh-ogoh kemudian dibakar di lapangan belakang Pura Mandhara Giri Semeru Agung Senduro Lumajang.
Pembakaran ogoh-ogoh ini menjadi simbol pemusnahan unsur jahat yang ada di bumi di lingkungan sekitar manusia.
Sebelum pengerupukan dilaksanakan, umat Hindu telah menjalani rangkaian upacara lainnya.
Diantaranya adalah Melasti dan Tawur Agung Kesanga yang memiliki makna mendalam.
Melasti dimaknai sebagai proses penyucian diri dan sarana upacara ke laut. Laut dipercaya sebagai sumber kehidupan sekaligus simbol kesucian.
