Puncak Hari Raya Karo Suku Tengger, Warga Desa Adat Ranupani Berjalan 3 Kilometer untuk Ritual Nyadran
Sesanti oleh Romo Dukun Bambang sesaat sebelum Nyadran (15/08). Foto: Visit LumajangHari Raya Karo, Syukur Sumber Penghidupan Warga Adat Tengger
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus ungkapan syukur masyarakat atas kesuburan tanah yang menjadi sumber penghidupan.
"Ini kita menghormati dan mengingat perjuangan para leluhur. Juga bersyukur kita di sini bertani, nanam kentang, bawang, itu tanahnya subur," kata Susanti.
Sesampainya di area makam, warga langsung mengikuti prosesi ziarah. Mereka secara bergantian menaburkan bunga dan memanjatkan doa di makam para leluhur. Prosesi tersebut diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Selain bunga, warga juga membawa makanan sebagai bagian dari sedekah dan persembahan.
Hidangan berupa nasi dan lauk dibungkus menggunakan daun pisang sebelum dibawa menuju makam untuk melengkapi rangkaian ritual.
Susanti menyebut hidangan yang disiapkan masyarakat dalam ritual Nyadran dikenal dengan nama tamping. Makanan tersebut berisi aneka masakan yang biasa dikonsumsi sehari-hari oleh warga Suku Tengger.
"Nama makanannya itu tamping yang isinya berupa masakan sehari-hari," ujarnya.
