Puncak Hari Raya Karo Suku Tengger, Warga Desa Adat Ranupani Berjalan 3 Kilometer untuk Ritual Nyadran
Warga saat Nyadran di makam Desa Ranupani (15/08). Foto: Visit LumajangKuatnya Kebersamaan Warga Suku Tengger di Desa Ranupani Senduro
Ketua Pelestari Adat Sampurno mengatakan, seluruh warga Suku Tengger tetap diharapkan mengikuti tradisi adat meskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda.
Hal tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk mempertahankan adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk menjalankan tradisi adat secara bersama-sama.
Setiap warga tetap menjalankan keyakinannya masing-masing, sementara aturan adat menjadi tanggung jawab bersama masyarakat.
"Pada intinya semua masyarakat itu walaupun agama beda-beda, tapi harus mengikuti peraturan adat. Kalau agama itu keyakinan masing-masing. Kalau adat itu yang punya masyarakat. Jadi bersama dilaksanakan dan dijaga," tutur Sampurno.
Ritual Nyadran pada Hari Raya Adat Karo 2026 tersebut sekaligus memperlihatkan kuatnya nilai kebersamaan masyarakat Suku Tengger.
Selain menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, tradisi ini menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga sekaligus menjaga budaya lokal agar tetap lestari.
