Gladak Perak, Ikon Lumajang yang Berada di Tengah Lahar Semeru
Gladak Perak lama sisa peninggalan 1940 yang dibangun kembali setelah Agresi Militer, hancur saat erupsi Semeru 2021. Foto: YanniiiJejak Sejarah Jembatan Gladak Perak
Pembangunan jembatan ini dimulai sekitar tahun 1925 dan baru rampung pada 1940, sehingga memakan waktu hampir 15 tahun. Lamanya proses tersebut disebabkan oleh kondisi medan yang sangat ekstrem.
Jembatan ini melintasi Sungai Besuksat yang merupakan jalur lahar Gunung Semeru dengan jurang sangat curam.
Dengan panjang sekitar 100 meter dan lebar 3 meter, jembatan rangka besi beralas beton ini dibangun menggunakan peralatan yang masih sederhana.
Jembatan Gladak Perak memiliki peran penting sebagai satu-satunya akses penghubung wilayah tersebut.
Namun di balik kemegahannya, tersimpan kisah pilu tentang kerja paksa yang menurut penuturan juru kunci menelan banyak korban jiwa akibat terjatuh ke jurang, sekaligus menjadi asal-usul makna historis dari nama Gladak Perak.
Gladak berarti bangunan atau jembatan, sedangkan Perak merujuk pada besarnya biaya pembangunan yang menggunakan mata uang perak pada masa itu. Fungsinya kemudian berubah drastis saat memasuki masa Revolusi Kemerdekaan sekitar tahun 1947.
Saat pasukan Belanda dan Sekutu berupaya masuk kembali ke Lumajang dari arah Malang melalui jalur selatan, pergerakan mereka terhambat di kawasan Candipuro oleh perlawanan pasukan Corp Zeni Pioner 22.
