Gladak Perak, Ikon Lumajang yang Berada di Tengah Lahar Semeru

Jembatan Gladak Perak yang dibangun pada 1998, hancur saat erupsi 2021. Foto: Istimewa

Saksi Bisu Sejarah Pertempuran Era Kolonial di Lumajang

Dipimpin Letnan Satu Imam Soekarto yang kemudian gugur dan dilanjutkan Letnan Mariakup, pasukan ini menerapkan strategi bumi hangus untuk menghambat laju musuh. ‎ ‎

Puncak strategi pertahanan itu terjadi pada 1947 ketika para pejuang memutuskan menghancurkan Jembatan Gladak Perak.

Sebagai satu-satunya akses penghubung, langkah ini berhasil menghambat mobilisasi pasukan Belanda yang hendak memasuki wilayah Lumajang dan memberi waktu bagi tentara gerilya untuk menyusun kekuatan di hutan dan pegunungan. ‎ ‎

Jembatan Gladak Perak bukan sekadar infrastruktur, melainkan saksi bisu sejarah heroik dari ambisi kolonial mengeksploitasi hasil bumi.

Penderitaan rakyat dalam kerja paksa, hingga keberanian pejuang Corp Zeni Pioner yang rela memutus akses vital demi mempertahankan kedaulatan wilayah. ‎ ‎

Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Lumajang, Jembatan Gladak Perak tercatat sebagai cagar budaya yang dipelihara sejak 2020.

Dibangun pada masa kolonial Belanda sekitar 1925, jembatan ini tidak hanya menjadi infrastruktur penghubung.