Menjaga Marwah Santri Merawat Peradaban, Catatan Pertemuan Alumni Nurul Istiqomah Wilayah Sukodono
Pertemuan rutin alumni Pondok Pesantren Nurul Istiqomah (Nurist) wilayah Sukodono (06/05). Foto: Visit LumajangEkspresi Pengabdian Ala Santri
Kyai menegaskan bahwa dalam pandangan santri, bekerja bukanlah sekadar aktivitas fisik untuk menyambung hidup, melainkan sebuah ekspresi pengabdian.
Setiap peluh yang menetes dan langkah kaki yang diayunkan demi menjemput rezeki halal adalah bagian dari perjuangan di jalan Allah.
Ketika niat telah dipancangkan karena-Nya, maka beban seberat apa pun akan terasa ringan, dan setiap kesulitan akan menemukan pintu kemudahan.
Keikhlasan inilah yang membebaskan seorang hamba dari dikte hasil akhir, sehingga senantiasa tenang dalam setiap proses yang dijalani.
Ada satu pembeda fundamental antara seorang santri—terutama alumni—dengan lulusan lembaga formal lainnya: Sudut Pandang.
Menjadi santri tidak pernah menjanjikan gelar Kyai, jaminan kekayaan, apalagi posisi jabatan. Namun, pesantren menuntun lulusannya untuk menjadi penjaga kehormatan (muru'ah) di manapun mereka berada.
Alumni Nurist dituntut membawa adab kesantriannya ke dalam ruang kerja, pasar, maupun ranah sosial lainnya.
