Nyadran Tengger Desa Kandangan di Situs Selogending: Merawat Ingatan, Leluhur, dan Rasa Syukur kepada Kehidupan

Penyiapan tumpeng untuk Nyadran di Wira Dharma Guesthouse (28/05). Foto: Visit Lumajang

Filosofi Tumpeng di Tradisi Warga Tengger

"Nasi tumpeng adalah sebuah lambang gunung. Kita ini berada di bawah gunung berapi, sehingga tumpeng menjadi wujud rasa syukur kita kepada Tuhan dan leluhur kita," jelas Wira saat prosesi Nyadran, Kamis 28 Mei 2026.

Tumpeng tidak sekadar makanan, tetapi simbol doa, rasa syukur, dan penghormatan. Bentuknya yang menyerupai gunung merefleksikan kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam pegunungan.

Beberapa unsur penting dalam ritual Nyadran meliputi prasen, prapen, kemenyan, japa mantra, selotengan, ojob, tamping, dan ritual dandanan.

Makna simbolik juga terkandung dalam kata "Du" (suci) dan "Kun" (sabda), menegaskan bahwa ritual ini tidak hanya kegiatan lahiriah, tetapi sarat nilai spiritual, doa, dan kesucian.

Selain Nyadran, masyarakat Tengger masih menjalankan ritual adat lain seperti Karo, Kasada, Kapat/Kabad, Kapitu, Barikan, dan Unan-Unan.

Selain itu, terdapat Kirab Jolen, ritual simbol rasa syukur kepada leluhur. "Jolen" berasal dari kata Jo = ojo (jangan) dan Len = kelalen (lupa), yang berarti jangan sampai melupakan leluhur dan asal-usul kehidupan.

Ritual ini biasanya melibatkan palawija dan hasil bumi, sebagai lambang evaluasi hasil pertanian dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan.