Nyadran Tengger Desa Kandangan di Situs Selogending: Merawat Ingatan, Leluhur, dan Rasa Syukur kepada Kehidupan
Makan bersama di tradisi Nyadran di Situs Selogending, Kandangan, Senduro (28/05). Foto: Visit LumajangKesetaraan Dalam Konteks Masyarakat Suku Tengger
Kesetaraan ini tercermin dalam kehidupan sosial mereka yang kuat akan rasa kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama.
Selain itu, masyarakat Tengger menggunakan kalender yang berbeda dengan kalender Jawa. Penentuan tanggal ritual adat memiliki perhitungan tersendiri, menunjukkan adanya sistem dan pengetahuan lokal yang tetap dijaga hingga sekarang.
Nyadran adalah ritual penting masyarakat Tengger yang dilaksanakan rutin setiap satu bulan sekali, pada malam Jumat Legi atau Jumat Manis.
Ritual ini menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan terima kasih atas kehidupan dan hasil bumi.
Bagi masyarakat Tengger, Nyadran bukan sekadar upacara adat, melainkan pengingat agar manusia tidak melupakan asal-usul kehidupannya dan tetap menjaga hubungan dengan Tuhan, leluhur, sesama, dan alam.
Salah satu unsur penting dalam Nyadran adalah nasi tumpeng. Peserta Sacred Life of Nyadran ikut membuat nasi tumpeng sebagai bagian dari pengalaman budaya dan spiritual.
Wira Dharma, tokoh adat di Situs Selogending, menjelaskan bahwa nasi tumpeng memiliki makna filosofis yang erat dengan kehidupan masyarakat Tengger.
