Cerita Kopi Senduro, Aroma Robusta dari Lumajang yang Mulai Dikenal Dunia

Petik merah kopi robusta Senduro. Foto: Istimewa

Kabut pagi masih menggantung di lereng Gunung Semeru ketika satu per satu petani memasuki kebun kopi di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Di antara rimbunnya pohon durian, nangka, pisang, manggis, hingga kapulaga, pohon-pohon kopi robusta tumbuh tanpa pernah berdiri sendiri.

Bagi warga setempat, cara bercocok tanam itu bukan sekadar memanfaatkan ruang di kebun. Ia merupakan warisan yang terus dijaga, sekaligus rahasia di balik cita rasa kopi Senduro yang perlahan dikenal hingga mancanegara.

Di kebun sederhana itulah perjalanan panjang secangkir kopi dimulai. Buah kopi dipetik ketika merah sempurna, dijemur di bawah sinar matahari, digiling menjadi biji kopi hijau atau green bean, lalu disangrai hingga mengeluarkan aroma khas yang memenuhi udara pegunungan.

Proses yang tampak sederhana itu sesungguhnya menyimpan ketelatenan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bagi Rifki Medianto, petani sekaligus pengusaha kopi asal Desa Senduro menyampaikan, kualitas selalu menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Harga kopi boleh mengikuti dinamika pasar, akan tetapi mutu harus tetap dijaga agar kepercayaan pembeli tidak hilang.