Cerita Kopi Senduro, Aroma Robusta dari Lumajang yang Mulai Dikenal Dunia

Suasana pengunjung Djodok Coffee Senduro. Foto: Visit Lumajang

Karakter Rasa Kopi Robusta Khas Senduro

Robusta dijual sekitar Rp120 ribu per kilogram. Ekselsa dipasarkan seharga Rp150 ribu per kilogram, sedangkan arabika mencapai Rp250 ribu per kilogram. Kopi lanang dijual Rp160 ribu dan kopi wen sekitar Rp180 ribu per kilogram. Di antara seluruh jenis tersebut, robusta tetap menjadi primadona.

"Yang paling banyak dicari robusta. Pengirimannya ke Bali, Surabaya, Malang, Tulungagung, Sidoarjo, Jakarta, Semarang, Kalimantan, sampai Singapura, Malaysia, Dubai, dan Turki," kata Rifki.

Menurut dia, robusta Senduro memiliki karakter yang berbeda dibandingkan robusta dari daerah lain. Perbedaan itu bukan muncul dari proses pengolahan semata, melainkan sejak kopi masih tumbuh di kebun.

Pohon kopi robusta di Senduro ditanam berdampingan dengan tanaman buah dan rempah seperti durian, nangka, pisang, manggis, kapulaga, bahkan vanili. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai sistem tanam tumpang sari.

Pola tanam tersebut diyakini memberi pengaruh terhadap aroma dan karakter rasa kopi. Karena itu, banyak penikmat kopi dapat mengenali robusta Senduro hanya dari aroma dan jejak rasanya.

"Kalau kopi Senduro murni tanpa campuran beras atau jagung. Jadi penikmat kopi sudah tahu kelebihannya. Yang kami jaga adalah kualitasnya," jelasnya.

Bagi sebagian penikmat kopi, robusta identik dengan rasa pahit yang kuat. Namun, di Senduro, pahit itu berpadu dengan aroma buah dan rempah yang muncul secara alami dari lingkungan tempat kopi tumbuh.